Misteri Bapak Hantu

Jam masih menunjuk di angka 3, saat sore itu aku dan putriku Hana yang baru berumur 2,5 tahun duduk berhadapan sembari bermain tumpukan balok-balok kayu. Tiba-tiba saja ia berteriak ketakutan dan merangsek ke tubuhku minta digendong sambil bergerak-gerak tak karuan

” Aaaaaaaaahhhh! Itu siapa? Itu siapa Bu? Ayo ke kamar, ayo kekamar…! ” serunya berulang-ulang sambil matanya menatap ke arah taman belakang rumah. Aku yang duduk membelakangi taman segera menoleh berusaha mencari tau apa gerangan yang membuat putri kecilku begitu sangat ketakutan. Takut ada maling atau apalah, namun mataku tak menangkap apa-apa selain bunga dan tanaman hijau lainnya. Cepat-cepat ku gendong Hana yang badannya masih bergetar hebat. Ku bawa ia ke kamarnya agar tenang. Mata beningnya kadang masih mencuri pandang ke arah taman, kadang pula dia pejamkan rapat-rapat. Akh Hana apa yang sebenarnya baru saja kamu lihat? Aku menghela nafas dalam-dalam.

Sebagai seorang ibu, aku pernah berjanji saat Hana masih dalam kandungan, bahwa aku akan menjadi malaikat penjaganya. Namun kini saat ia nampak sangat ketakutan, aku merasa tak berguna jika tak dapat membantunya. Aku harus tau apa sebenarnya yang terjadi barusan, agar selanjutnya lebih mudah bagiku menjaga Putriku yang masih kecil ini. Aku memejamkan mata, berdoa semoga Tuhan mengizinkanku melihat apa yang dilihat Hana tadi.

Esok harinya Hana nampak kembali ceria. Sepertinya ia sudah lupa pada apa yang membuatnya sangat ketakutan sore itu. Dengan perlahan aku bertanya padanya,

” Nak, kemaren itu kamu liat apa kok sampe nangis minta gendong?”

Hana kecil menatapku dan terdiam beberapa saat. Aku tau ia hendak mengatakan sesuatu, namun kosakatanya yang masih terbatas membuatnya bingung untuk menyampaikan maksud hatinya. Akhirnya ia berbisik lirih,

” Hana liat bapak hantu, bu!”

Nah lho apa lagi ini, batinku. Bapak hantu, siapa dan bagaimana ya dia? Jujur, kata-kata Hana membuat hatiku setengah penasaran. Baru kali ini aku dengar istilah bapak hantu sebagai bagian dari jenis hantu di indonesia raya. Namun untuk menanyakannya lebih lanjut kepada Hana rasanya sia-sia. Ia akan makin kesulitan mendeskripsikan si bapak hantu itu, maklumlah namanya juga ngomong sama batita.

dua hari kemudian, saat sore hari aku dan Hana duduk-duduk di ruang tengah sembari menunggu Ayah pulang, sekilas samping mataku menangkap sebuah gerakan dari arah belakang rumah. Dengan cepat aku menoleh. Dan Tap! Aku berharap menemukan kucing kampung nakal yang biasa nyelonong masuk rumah dengan memanjat tembok pagar belakang. Namun ternyata yang kulihat adalah… Si Bapak Hantu!

Huaaaa…. Perasaanku bercampur aduk, antara kaget, lega, tapi juga senang karena akhirnya doaku terjawab. Aku tau siapa yang sempat membuat Hana histeris.

‘Bapak hantu’ itu berdiri di teras belakang seolah mengamati aku dan Hana yang tengah asyik bercengkerama. Saat kami bertatapan beberapa detik berharga itu, ia lalu memilih melesat kesamping rumah tetangga yang masih kosong.

Meskipun hatiku bersorak, namun lisanku diam saja enggan membuat Hana panik lagi. Hana yang manis mendekatiku,

” Bu tutup pintunya. Ada bapak hantu ” bisiknya seolah takut ada yang mendengar

” tapi sekarang sudah pergi…” lanjutnya lirih. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan menutup pintu belakang sambil berkata

” jangan ganggu anakku. Dia hanya anak kecil”

meski bapak hantu itu sudah tak nampak, namun aku berharap dia masih mendengar karena nguping dari balik tembok.

*******************

Sebutan bapak hantu dari Hana memang wajar kurasa, karena aku sendiri juga tak tau apa nama makhluk itu. Setelah browsing sana sini barulah aku tau bahwa namanya adalah ‘black shadow gosh’ alias ‘bayangan hitam’. Meskipun wujudnya hanya bayangan hitam, namun si bapak hantu ini bentuknya menyerupai orang. Ada kepala, badan, tangan dan kaki, semuanya berwarna hitam legam seperti kumpulan asap pekat. Mukanya nggak ada. Bagi Hana, ia nampak seperti bapak-bapak tapi hantu. Jadilah namanya bapak hantu, hehe…

Ingatanku kembali ke beberapa tahun lalu saat masih lajang, ngekost dan pertama kalinya melihat wujud si bapak hantu. Saat itu dini hari jam menunjukkan pukul 1:30 am. Mata enggan terpejam, kata orang-orang aku insomnia. Tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi, yang letaknya di ujung sebelah kanan bangunan. Tanpa pikiran apa-apa karena sangat kebelet vivis, aku buka pintu kamar dan.. Oolala.. Apa itu? Batinku. Ada orang berdiri di bawah lampu di depan kamar kost temanku. Bapak kost! Spontan aku menebak. Ya ampun, cuma dia kan satu-satunya lelaki di tempat ini. Dan sekarang dia ketauan ternyata suka mengintip teman kost sebelah kiri kamarku. Tapi kok dia diem aja ya.. Nggak basa-basi sama aku padahal sudah kepergok, atau misal pura-pura beralasan lagi nangkepin nyamuk agar tak mengganggu anak kost? Kuamati lagi baik-baik.. Detail demi detail.. Ya Allah ternyata dia bagaikan kumpulan asap pekat. Meski sejenak otakku berfikir mungkin ada kebakaran kecil, namun caranya berdiri yang tepat di bawah lampu dapat membuatku dengan jelas melihat bagian kepala, badan, tangan dan kakinya! Dia menatap ke arahku, hal itu terlihat dari posisinya yang agak menyamping. Mungkin dia kaget saat aku tadi membuka pintu kamar. Aku cukup puas melihatnya bahkan walau mataku sudah berulang kali kukedip-kedipkan yang kata orang agar hantunya cepat pergi, dia tetap berdiri di tempatnya. Mentang-mentang nggak ada orang lain, mentang-mentang semua temanku sudah pada tidur dan suasana sunyi senyap, atau mungkin dia naksir sama teman kos baruku itu ya, sehingga dia seperti engan pergi meski sudah ketahuan. Akh, rasa sakit menahan vivis ini lebih hebat daripada keingintahuanku malam itu. Maka aku bergegas meninggalkannya menuju kamar mandi. Tepat sebelum masuk kedalam toilet, kusempatkan menengok kearahnya dan dia masih berdiri di sana.

***********

Waktupun beranjak pergi. Lama aku tak bersua lagi hingga aku lupa pada si bayangan hitam. Aku kaget saat beberapa tahun kemudian bertemu lagi dengannya, tepatnya saat aku sudah menikah dan hamil Hana 7 bulan.

Saat itu aku tiba-tiba terbangun tengah malam, entah jam berapa karena saat mataku terbuka yang kulihat pertama kali adalah si bayangan hitam. Entah dia melihatku atau tidak karena saat itu posisi tidurku menyamping dengan sebagian guling menutup wajahku. Mungkin dia tidak tau bahwa aku terbangun karena aku tak bergerak. Dia tetap berdiri disebelah pintu kamar. Yang aku pikirkan pertama kali adalah maling! Jantungku berdetak tak karuan, dirumah ini hanya ada aku dan suami saja, jadi jika ada orang lain tengah malam begini pasti maling kan..?! Untung objek itu diam saja sehingga aku bisa mengamati dengan seksama dari balik gulingku dan ternyata itu si bayangan hitam yang tengah berkunjung. Entah apakah dia black shadow yang sama dengan yang ku lihat di kos itu atau bukan, yang pasti pertemuan pertama itu rupanya membuahkan perjumpaan berikutnya. Dia mungkin mengikutiku ya, bagaimana pula caranya dia bisa tau tempat tinggalku yang sekarang?! Ingin rasanya aku membangunkan tidur suamiku, tapi seringnya jika begitu hantunya malah pergi. Aku nggak mau suamiku jadi terbangun sia-sia karena besok ia harus masuk kerja. Hmm, kakiku sudah mulai pegal, badanku juga. Ingin bergerak tapi takut sama hantunya. Tiba-tiba aku berfikir bagaimana jika aku bersuara saja, agar dia tau bahwa aku sudah bangun? Sepertinya ide bagus! Lalu di balik tameng gulingku aku mencoba untuk berdehem sekeras mungkin,

” Ehem.. Eeehem..!!”

waktu kuintip dari sela gulingku, syukurlah si bayangan hitam telah pergi.

**************

Lalu apakah penglihatan Hana pada sosok Bapak hantu ini ada keterkaitan dengan peristiwa di masa laluku tersebut? Entahlah. Aku hanya berharap Si bapak hantu itu tak lagi menghantui hari-hari putri kecilku, Hana.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: